Floating Image
Floating Image
Selasa, 20 Oktober 2026

Pemkot Pematangsiantar Ajak Masyarakat Lestarikan Naskah Kuno, Digitalisasi Jadi Upaya Pendukung


Oleh admintajam
20 Oktober 2026
tentang Daerah
Pemkot Pematangsiantar Ajak Masyarakat Lestarikan Naskah Kuno, Digitalisasi Jadi Upaya Pendukung - TajamNews

-

19 views



PEMATANGSIANTAR, SINKAP.info — Pemerintah Kota Pematangsiantar mengajak masyarakat berpartisipasi dalam pelestarian naskah kuno melalui inventarisasi, registrasi, dan pemeliharaan. Digitalisasi turut dibahas sebagai upaya pendukung untuk mendokumentasikan isi naskah dan memperluas akses pengkajian.

Ajakan tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat dalam Registrasi Naskah Kuno yang digelar Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar di Ruang Serbaguna Pemko Pematangsiantar, Selasa (20/10/2026).

Berdasarkan laporan penyelenggara, kegiatan ini diikuti 100 peserta dari berbagai unsur, antara lain tokoh agama, tokoh masyarakat, dan akademisi. Penanggung jawab kegiatan adalah Ruspina Siregar, Kepala Bidang Perpustakaan dan Pengolahan Bahan Pustaka pada Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar.

Wali Kota Pematangsiantar dalam sambutan yang dibacakan Asisten Administrasi Umum Dedi Tunasto Setiawan, S.H., M.H., menyampaikan bahwa naskah kuno merupakan rekam jejak peradaban yang menyimpan pengetahuan, kearifan lokal, dan pengalaman kehidupan masyarakat.

Pelestarian warisan tertulis tersebut membutuhkan kerja sama pemerintah, akademisi, masyarakat, serta pemilik naskah agar keberadaan dan kandungannya tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Dalam sambutan itu, Pemkot Pematangsiantar menyatakan komitmen untuk terus mendorong penyelamatan naskah kuno melalui sosialisasi, identifikasi, dan pengkajian.

Sementara itu, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar, Ir. Christina Rispani Sidauruk, mengatakan bahwa pemahaman masyarakat menjadi landasan penting dalam mengenali dan merawat naskah kuno.

“Naskah kuno menyimpan khazanah intelektual yang belum sepenuhnya tergali,” ujar Christina dalam laporan pelaksanaan kegiatan.

Menurutnya, sosialisasi ini memberikan pemahaman mengenai pengertian, jenis, manfaat, serta upaya pemeliharaan naskah kuno. Keterlibatan masyarakat diharapkan dapat mendukung pendataan naskah yang masih tersimpan di lingkungan keluarga maupun komunitas.

Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen Medan, Manguji Nababan, S.S., M.A., dengan materi “Pengarusutamaan Naskah Kuno” yang berfokus pada inventarisasi dan registrasi.

Narasumber lainnya, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Prof. Dr. Erond Litno Damanik, S.Pd., M.Si., membahas manuskrip Partiga-tiga Sihapunjung Parmata Manunggal sebagai sumber penelusuran linimasa dan rekonstruksi sejarah Kota Pematangsiantar.

Erond menjelaskan bahwa manuskrip memuat beragam pengetahuan, mulai dari silsilah, hukum adat, sastra, spiritualitas, hingga pengobatan tradisional. Dalam tradisi Simalungun, manuskrip antara lain ditulis pada kulit kayu atau laklak menggunakan aksara lokal.

Ia juga menekankan perlunya pembacaan kritis dan perbandingan sumber dalam penulisan sejarah. Manuskrip lokal dapat dikaji bersama catatan perjalanan, laporan kolonial, dan dokumentasi lainnya untuk memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai perjalanan Kota Pematangsiantar.

Dalam pembahasan pelestarian, Erond menguraikan sejumlah ancaman terhadap kondisi fisik naskah, seperti kelembapan, jamur, serangga, pelapukan, serta penanganan yang kurang tepat.

Digitalisasi melalui pemotretan atau pemindaian beresolusi tinggi, penyusunan metadata, dan pengembangan repositori digital dibahas sebagai langkah pendukung dokumentasi. Pelaksanaannya perlu disertai perawatan fisik serta penguatan kemampuan membaca bahasa dan aksara lama.

Sesi pemaparan dan diskusi dipandu Muhammad Fikri Fanani Damanik, S.IP., M.Si., selaku moderator. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan membahas pelestarian naskah di lingkungan masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Fikri turut memperkenalkan rubrik “Menelisik Sejarah” yang dipublikasikan setiap Kamis melalui media sosial Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar.

Rubrik itu telah mengangkat sejarah sejumlah bangunan di Kota Pematangsiantar, antara lain Siantar Hotel, bioskop, dan gedung BRI. Ia mengajak peserta, khususnya mahasiswa, memanfaatkan informasi tersebut sebagai bahan pembelajaran.

“Kita harus memaksimalkan media sosial kita menjadi sarana edukasi untuk masyarakat Kota Pematangsiantar,” ujarnya.

Melalui sosialisasi tersebut, Pemkot Pematangsiantar mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga naskah kuno sekaligus memperluas pemanfaatannya sebagai sumber pengetahuan dan pembelajaran sejarah daerah.

Penulis

admintajam

Berita Lainnya dari Daerah